https://journal.iistr.org/index.php/BIKK/issue/feedBuletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan2026-08-24T02:25:25+00:00Dr. Dhesi Ari Astutidhesi@unisayogya.ac.idOpen Journal Systems<p style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><strong>Buletin Ilmu Kebidanan dan Keperawatan</strong><strong><span style="font-weight: normal;"><span style="color: rgba(0, 0, 0, 0.87); font-variant-ligatures: normal; font-variant-caps: normal; orphans: 2; text-align: start; widows: 2; -webkit-text-stroke-width: 0px; text-decoration-thickness: initial; text-decoration-style: initial; text-decoration-color: initial; float: none; word-spacing: 0px;"> provides novel peer-reviewed clinical articles that support professional nurses and midwives in their competence as health care providers. Each issue presents articles ranging from clinical topics to political and practical issues. It aims to deepen understanding of the theoretical and clinical needs of nurses and midwives practice. This bulletin is essential reading for all those involved in nursing and midwifery practice, including students, managers, educators, researchers, clinicians, and policymakers.</span></span></strong></p>https://journal.iistr.org/index.php/BIKK/article/view/1336Hubungan Asupan Makanan Sumber Prebiotik dengan Status Anemia pada Ibu Hamil2026-08-24T02:23:58+00:00Sharfina Haslinsharfinahaslin97@gmail.comNetti Meilani Simanjuntaknettimeilani1987@gmail.comJuneris Aritonangaritonangjuneris@gmail.comErnawati Simaremareernawatiaritonang644@gmail.com<p>Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan yang signifikan dan dapat memengaruhi kesehatan ibu serta janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan makanan sumber prebiotik lokal dengan status anemia pada ibu hamil trimester II. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif analitik dengan sampel 37 ibu hamil yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi makanan prebiotik dan pemeriksaan hemoglobin untuk menilai status anemia. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square untuk menentukan hubungan antara asupan prebiotik dan status anemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan prebiotik berhubungan signifikan dengan status anemia (p < 0,001), dengan ibu hamil yang memiliki asupan rendah lebih berisiko mengalami anemia dibandingkan dengan yang memiliki asupan sedang atau tinggi. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi makanan lokal kaya prebiotik dalam pola makan ibu hamil sebagai strategi tambahan untuk pencegahan anemia. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman pengaruh makanan sumber prebiotik terhadap status gizi dan anemia pada ibu hamil, serta dapat menjadi dasar untuk intervensi gizi berbasis masyarakat. Disarankan penelitian selanjutnya menggunakan desain longitudinal atau intervensional dengan sampel lebih besar dan memasukkan penilaian mikrobiota usus untuk memperkuat pemahaman mekanisme biologis.</p>2026-05-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sharfina Haslin, Netti Meilani Simanjuntak, Juneris Aritonang, Ernawati Simaremarehttps://journal.iistr.org/index.php/BIKK/article/view/1539Pola Makan, Status Gizi, dan Kaitannya dengan Stunting pada Anak Usia Sekolah2026-08-24T02:20:54+00:00Winasari Dewiwinasari.dewi@bku.ac.idYusni Ainurrahmahyusni.ainurrahmah@bku.ac.idSanti Rinjanisanti.rinjani@bku.ac.id<p>Stunting masih menjadi permasalahan gizi utama di Indonesia. Hal ini tidak hanya terjadi pada balita tetapi juga pada anak usia sekolah. Faktor pola makan dan status gizi diduga berperan penting terhadap kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dan status gizi dengan kejadian stunting pada anak usia sekolah. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 51 orang anak usia sekolah. Data dikumpulkan melalui kuesioner pola makan, pengukuran antropometri untuk status gizi dan stunting, serta dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p<0,05. Sebagian besar responden pada penelitian ini berusia 11 tahun (47,1%) dan berjenis kelamin perempuan (56,9%). Mayoritas anak memiliki pola makan kurang baik (51%), status gizi kurang (47,1%), dan prevalensi stunting cukup tinggi (78,4%). Uji Chi-square menunjukkan bahwa pola makan tidak berhubungan signifikan dengan stunting (p=0,789), sedangkan status gizi berhubungan signifikan dengan stunting (p=0,004). Hal ini menunjukkan prevalensi stunting pada anak usia sekolah masih sangat tinggi. Status gizi terbukti berhubungan dengan stunting, sementara pola makan tidak menunjukkan hubungan bermakna. Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada perbaikan status gizi sejak dini melalui pemenuhan energi dan protein yang adekuat serta intervensi gizi berkelanjutan di sekolah.</p>2026-06-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Winasari Dewi, Yusni Ainurrahmah, Santi Rinjanihttps://journal.iistr.org/index.php/BIKK/article/view/2129Maternal Education and Behavioral Factors as Determinants of Immunization Completeness2026-08-24T02:25:25+00:00Rohati Fatarubaarfataruba@gmail.comYuni Asriyuniasri@itsk-soepraoen.ac.idAnanda Sagita Maharani2211150@student.itsk-soepraoen.ac.id<p>Childhood immunization remains a fundamental public health intervention to prevent vaccine-preventable diseases and reduce child morbidity and mortality. Maternal characteristics, particularly educational attainment and behavioral factors, are considered important determinants of immunization uptake. This study aimed to analyze the association between maternal education, knowledge, and attitudes and childhood immunization completeness. A cross-sectional design was employed using secondary data from 362 mother–child pairs registered at a primary health care center in Indonesia in 2025. Immunization status was classified as complete or incomplete according to the national immunization schedule. Independent variables included maternal education, knowledge, attitude, age, employment status, parity, and the child’s sex. Data were analyzed using SPSS version 26. Descriptive statistics were presented as frequencies and percentages, while associations were examined using Chi-square or Fisher’s exact tests with a significance level of p<0.05. Overall, 58.6% of children had complete immunization. Maternal education (p<0.001), knowledge (p=0.003), and attitude (p=0.003) were significantly associated with immunization completeness. Strengthening maternal health education may enhance vaccination coverage in primary care settings.</p>2026-06-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Rohati Fataruba, Yuni Asri, Ananda Sagita Maharanihttps://journal.iistr.org/index.php/BIKK/article/view/1882An Integration of Local Cultural Values in Family Planning Counseling in Indonesia2026-08-24T02:23:54+00:00Rona Riasma Oktobriarianironariasma@gmail.comRochmawatiramadhan.rochmawati@gmail.com<p>Indonesia faces complex challenges in Family Planning programs due to cultural diversity, with more than 300 ethnic groups. This systematic review aims to identify models for integrating local cultural values into family planning counseling and evaluate their effectiveness in improving program acceptability. Literature searches were conducted through Google Scholar, Garuda Portal, PubMed, and DOAJ for the 2014-2024 period. Of the 74 articles identified initially, after a screening and feasibility assessment process, 10 articles were included in this review using the thematic narrative synthesis method. The results identified five models of cultural integration: (1) habituation of religious values that increase the understanding of family planning in a religious framework, (2) innovative communication strategies through social media that increase the reach of family planning information, (3) adaptation of family structure in family planning counseling, (4) technology integration in KIE based on Islamic values, and (5) development of counselors' cultural competence. The cultural competence of counselors in understanding family structures, privacy norms, and local moral values is a determinant of success. The integration of technology in KIE with cultural sensitivity shows great potential in the dissemination of family planning information. This research contributes to the development of a culturally adaptive family planning counseling framework that can increase the continuation rate and reduce the contraceptive dropout rate in Indonesia.</p>2026-06-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Rona Riasma Oktobriariani, Rochmawatihttps://journal.iistr.org/index.php/BIKK/article/view/2418Evaluasi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas Pegandon Kabupaten Kendal2026-08-24T02:20:49+00:00Shinta Ayu Nanishinta.ayu@bku.ac.id<p>Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan bentuk intervensi kesehatan ibu dan bayi yang telah terbukti berkontribusi signifikan dalam menekan angka morbiditas dan mortalitas neonatal. Meskipun demikian, penerapannya di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masih dihadapkan pada beragam kendala. Di Indonesia, walaupun kebijakan IMD telah menjadi bagian dari standar pelayanan persalinan, pelaksanaannya pada tingkat pelayanan kesehatan primer belum sepenuhnya berjalan secara optimal. Pelaksanaan IMD di Puskesmas Pegandon sebanyak 60% berlangsung kurang dari satu jam. Penelitian ini diarahkan untuk mengevaluasi pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Puskesmas PONED Pegandon, Kabupaten Kendal, dengan menitikberatkan pada aspek pemahaman, persepsi, dan praktik bidan pelaksana dalam mendukung implementasi IMD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan fenomenologis, yang melibatkan bidan pelaksana PONED dan koordinator sebagai informan utama. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara mendalam dan telaah dokumen terkait pelaksanaan IMD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas bidan telah memiliki pemahaman yang baik mengenai urgensi IMD. Namun, pelaksanaan di lapangan belum berlangsung secara konsisten, dikarenakan kurangnya keterampilan teknis, lemahnya kebijakan internal, tingginya beban kerja, lemahnya pengawasan, minimnya supervisi serta belum meratanya pelatihan IMD yang terstandarisasi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi IMD sangat bergantung pada sinergi antara kompetensi tenaga kesehatan dan dukungan kebijakan internal. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan secara berkelanjutan, serta pembangunan budaya kerja berbasis bukti guna memastikan pelaksanaan IMD yang konsisten dan efektif.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Shinta Ayu Nanihttps://journal.iistr.org/index.php/BIKK/article/view/2467Factors Affecting Reluctance to Malaysian Adults’ COVID-19 Vaccine Booster Doses2026-08-24T02:20:47+00:00Nadhiah Abd Rahmannadhiah.ar@gmail.comHemaloshinee Vasudevanloshinee8325@gmail.comHeinko Dona Madonheinkom@gmail.comNoorseha Ayobnoorseha@unirazak.edu.my<p>This study examines the factors that affect COVID-19 booster vaccine hesitancy among Malaysian adults, utilizing the 5C Vaccination Decision-Making Framework and a modified Theory of Planned Behavior (TPB). Malaysia's rollout of booster doses faces significant hesitancy, indicating a need to explore the underlying reasons. The research identifies key physical and psychological determinants influencing vaccine intentions, particularly emphasizing confidence, constraints, complacency, calculation, and collective responsibility, while highlighting the mediating role of attitude. Data from 100 Malaysian adults were collected through a cross-sectional web-based survey and analyzed using SPSS and structural equation modeling (SEM) with SmartPLS. The findings indicate that confidence in vaccine efficacy is a strong predictor of positive attitudes and intentions, while constraints have a moderate influence, and complacency exerts a negative impact on attitudes. Calculation does not significantly relate to attitudes, indicating that factual information has limited effects in the context of misinformation and trust issues. This research underscores the mediating influence of attitudes on the interplay between confidence, constraints, complacency, calculation, and collective responsibility concerning vaccination intentions, highlighting the importance of promoting positive vaccine perceptions. The study recommends comprehensive strategies to enhance confidence, reduce barriers, combat complacency, provide accurate information, and promote collective responsibility to improve COVID-19 booster vaccine uptake.</p>2026-08-03T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nadhiah Abd Rahman, Hemaloshinee Vasudevan, Heinko Dona Madon, Noorseha Ayob